Oleh:
Jaya Mualimin Munawar al Badri
Pembuka
Risalah terakhir dari bangunan ketauhidan telah paripurna. Risalah Muhammad SAW bagian dari batu bata bangunan tauhid yang diawali perintah Iqra' "bacalah ya Muhammad", menjadi sangat urgen dibicarakan kembali karena tidak hanya berkaitan ketika Muhammad bin Abdullah bertemu Jibril AS di Hira, tetapi juga saat menutup risalah di ujung akhir dunia. Saat digambarkan kondisi ketauhidan telah jauh melenceng dari pesan awal, sehingga pertolongan Allah tidak hadir ditengah umat dari sisa umur 500 tahun terakhir. Perpecahan, kebodohan, sosial budaya dan kultural yang terpuruk dan memprihatinkan.
Tulisan ini ingin mengetuk hati umat, sehingga dapat kembali meraih cita-cita kejayaannya sesuai perintah wahyu iqra', Inshaallah.
Iqra' Perintah Ketauhidan
"Iqra'" adalah perintah tauhid pertama yang turun. Bukan kebetulan kata wahyu itu "Bacalah", bukan "Shalatlah" atau "Puasa lah". Karena sebelum amal, otak harus kenal paham dulu siapa yang disembah.
Iqra' itu bukan sekadar perintah literasi saja, itu perintah epistemologi tauhid abadi.
Manusia dengan otaknya disuruh bekerja: amati, analisis, sambungkan pola aloritmanya sampai ketemu kesimpulan "La ilaha illallah".
Kaitan Iqra' dengan Tauhid
Iqra' bismi Rabbik - Baca dengan nama Tuhanmu
Perintah baca itu langsung disambung "bismi Rabbik".
Artinya: jangan membaca alam, sejarah, diri dengan kacamata kosong ("ego"), tapi Baca lah dengan lensa tauhid "ini ciptaan Rabbku". Bila membaca tanpa "bismi Rabbik", maka, hasilnya hanya sains materialis, ego kesombongan muncul, Itu bibit syirik khafi. Bacalah dengan "bismi Rabbik", itu adalah bukti Rububiyah: keteraturan, desain, kasih sayang. Itulah pintu tauhid.
Iqra' memaksa otak keluar dari ilusi mandiri
Otak manusia cenderung merasa "aku yang paham, aku yang hebat". Perintah "Iqra'" itu merendahkan ego. Kamu disuruh baca, artinya ada Penulis. Ada yang menciptakan yang bisa dibaca. Dari sini masuk ke Tauhid Rububiyah: Allah satu-satunya Pencipta, Pengatur, Pemelihara.
Nggak ada yang kebetulan.
Iqra' adalah proses mengingat Perjanjian dengan ruh
Kita melalui ruh telah bersaksi "Balaa syahidna" sebelum lahir. Tapi saat ego lahir di dunia menjadi lupa, maka perintah Iqra' asalah proses buka kembali memori itu.
Urutan wahyu nunjukkan logika Tauhid
1.Iqra': Kenal dulu siapa Tuhanmu 2.Al-Muddassir: Setelah kenal, bangun dan sampaikan 3.Al- Muzamil: Setelah kenal, kuatkan diri dengan malam, dzikir, sabar. Tidak bisa dibalik. Kalau disuruh ibadah dulu tanpa kenal, jadinya formalitas kosong. Kalau disuruh kenal tapi nggak ada perintah baca, jadinya cuma perasaan.
Jujur adalah tanda tauhid dari sifat seseorang
Orang yang bener-bener "membaca" dunia dengan jujur, ujungnya pasti berujung kepada ketuhanan. Karena semua tanda merujuk pada ketahidan.
Sifat pertama para utusan asalah kejujuran
Semua utusan Tuhan pasti adalah orang jujur sebelum diutus, itulah indikator awal ketauhidan diri. Bagaimana mungkin mereka membohongi Tuhan nya, sementara membawa pesan ilahiah kepada umat-Nya.
Membaca atau "Literasi" ciri umat akhir zaman
Ada 3 istilah sebagai manusia pilihan zaman, sebagai genarasi emas yaitu: Literasi, Legacy, Kompetensi, tiga kata ini kalau dihuhungkan jadi kerangka hidup dengan perintah "Iqra' diatas;
Literasi adalah Alat untuk Iqra'
Literasi bukan hanya baca tulis belaka, ia adalah kemampuan memproses, memahami, dan memberi makna pada informasi.
Literasi Al-Qur'an/quliah: Baca, paham, amal. Ini fondasi biar nggak salah baca "bismi Rabbik".
Literasi Alam/kauniah: Baca pola, sebab-akibat, desain di alam semesta. Otak dilatih lihat tanda.
Literasi Diri: Sadar kelemahan, bias, emosi. Tau diri itu bagian dari tauhid. Tanpa literasi, Iqra' berhenti di level lisan. Ada suara, tapi nggak ada makna yang masuk kedalam pengetahuan otak kita.
Kompetensi adalah Bukti Iqra' yang hidup
Kompetensi itu kemampuan yang udah terasah dari literasi.Literasi itu input, kompetensi itu output.
Kompetensi berpikir: bisa bedain mana fakta, mana asumsi, mana bias.
Kompetensi moral: bisa jujur walau rugi, karena udah paham ada Rabb yang lihat. Kompetensi amal: ilmu yang jadi tindakan. Nggak cuma tahu Tauhid, tapi hidupnya konsisten.
Iqra' yang benar selalu naik level ke kompetensi. Kalau hanya menampung informasi tidak berubah, itu "literasi mati".
Legacy adalah Jejak Iqra' yang Tinggal
Legacy itu apa yang tersisa setelah kamu nggak ada. Kalau literasi dan kompetensi dijaga dalam kerangka Tauhid, legacy-nya otomatis berhubungan dengan akhirat.
Legacy ilmu yang diamalkan orang lain. Legacy karakter: anak, murid, teman yang niru kejujuran dan ketauhidan. Legacy amal yang ngalir: wakaf, ajaran, kebaikan yang nggak putus.
Tanpa Tauhid, legacy hanya nama dan fisik. Dengan Tauhid, legacy menjadi amal abadi "jariah"
Allah perintah "Iqra'" agar kamu punya literasi yang benar. Literasi benar menjadi kompetensi lurus.
Kompetensi lurus asa legacy yang selamat.
Al-mubashirat memberi pesan membaca
Al-Mubashirat asalah kabar gembira dari Allah, biasanya lewat mimpi yang benar. Kata ini dari hadits:
Tidak tersisa dari kenabian kecuali Al-Mubashirat.” Para sahabat bertanya: “Apa itu Al-Mubashirat?” Nabi menjawab: “Mimpi yang benar, dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya.”
Mengapa Al-Mubashirat memberi pesan umat untuk membaca?
Mimpi yang benar itu termasuk cabang wahyu (1/46 kenabian). Mimpi nabi itu wahyu. Mimpi umat setelah nabi wafat itu sisa-sisa wahyu.
Fungsi utamanya bukan syariat baru, tapi untuk meneguhkan hati, Mengarahkan kepada kebaikan, dan Membangunkan dari kealfaan.
Algoritma mimpi-mimpi sahih itu cenderung mengarahkan “baca Al-Qur’an”, “pelajari ilmu”, “dzikir”, “kembali ke ketauhidan”. Kenapa demikian?, karena itu inti misi risalah kenabian
Wahyu pertama turun: Iqra’. Al-Mubashirat itu sisa kenabian, wajar kalau isinya konsisten: dorong umat baca, belajar, sadar agar tidak tergelincir dari dosa shirik dan bentuk-bentuknya. Otak kita mencerna melalui pikiran sehingga hidup bebas berpikir ketuhanan. Mimpi benar itu notif dari Allah: “Hei manusia, balik lagi ke Iqra’, jangan dilupakan perjanjian Alastu”
Umat yang gemar membaca, berpikir, punya sifat jujur, itu umat yang hidup. Umat yang malas baca dan malas mikir, lama-lama jadi umat yang gampang dibodohi dan dijauhkan dari legacy.
Penutup
Al-Mubashirat itu reminder halus dari Allah. Isinya hampir selalu berhubung dengan misi awal“Iqra’ bismi Rabbik”. Jauhi keshirikan dengan segala bentuknya dan hadirkan pertolongan Allah. Kejayaan dimulai saat umat menjauhi keshirikan.
Wallahu a'lam bisswab

Komentar
Posting Komentar