Oleh:
Jaya Mualimin Munawar al Badriah
Istilah Ghuraba
Secara bahasa, ghuroba (atau ghuraba', الغرباء) adalah bentuk jamak dari kata ghorib (غريب) yang berarti orang asing, pendatang, atau sesuatu yang ganjil dan terasing.
Dalam kontek agama, istilah ini merujuk kelompok orang yang berpegang teguh pada kebenaran dan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat yang telah rusak akhlak dan rusak pemahamannya. Mereka disebut "asing" karena jumlah mereka sedikit dan prinsip-prinsip mereka sering dianggap aneh atau berbeda oleh kebanyakan orang. sabda Nabi SAW: "Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang- orang yang asing. "Ketika ditanya siapa mereka, Rasulullah SAW menjawab: "Yaitu orang- orang yang senantiasa melakukan perbaikan di saat manusia telah rusak."
(HR. Ahmad)
Memegang Bara Api
Rasulullah SAW menyebut mereka para pengikut Islam kondisi awal dan akhir Islam laksana "memegang bara api" karena sangat sulit dan beratnya mempertahankan kebenaran. Mereka tetap berada di tengah masyarakat, berinteraksi, dan memperbaiki keadaan (yushlihûna), meski pemahaman dan cara hidup mereka dianggap aneh atau asing oleh lingkungan sekitarnya.
Asing atau Mengasingkan Diri
Gharib atau 'Uzlah
Perbedaan antara asing dan mengasingkan diri adalah dua konsep spiritual yang saling melengkapi untuk menjaga keimanan. Keduanya merujuk pada respon seorang muslim saat menghadapi zaman yang penuh fitnah (kerusakan moral/agama), namun dengan fokus dan tindakan berbeda. Konsep ghuraba memposisikan tetap berinteraksi dan tetap berada di tengah masyarakat dan terus menerus memperbaiki umat, walau dianggap ideologi pemikiran, nilai terasing. Sebaliknya uzlah secara pribadi atau bersama-sama, mereka menarik diri secara fisik, sosial dari keramaian demi keselamatan spiritual. Asing "gharib" bukan berarti harus mengasingkan diri. Konsep uzlah bisa disebut sosial distancing atau pembatasan sosial, pengalaman pandemik covid-19.
Tradisi Uzlah Para Pendahulu
Tradisi ‘uzlah atau menarik diri sejatinya sudah ada sejak zaman para nabi terdahulu, terutama yang dikisahkan Al-Qur’an seperti uzlah-nya Nabi Ibrahim AS, kisah dari Ashabul Kahfi, dan kisah Nabi Musa AS.
Allah SWT berfirman; “Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah - mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepadaTuhanku,” (QS. Maryam: 48).
Para ulama tafsir menjelaskan, ketika kaumnya terus menolak dan merendahkannya, bahkan terang-terangan menyembah berhala, Al-Khalil Nabi Ibrahim AS kemudian beruzlah dan menarik diri. Allah pun memelihara nabi-Nya dari kejahatan mereka, dan membalasanya dengan balasan yang besar, serta menganugerahinya dengan karunia keturunan yang saleh.
Allah SWT berfirman;
“Maka ketika Ibrahim AS sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.” (QS.Maryam; 49).
Tradisi ‘uzlah berikutnya dilakukan oleh sejumlah laki-laki yang dikenal dengan Ash-habul Kahfi. Kisah ‘uzlah mereka diabadikan di dalam Al-Qur’an agar menjadi pelajaran bagi umat- umat berikutnya. “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu,” (QS. Al-Kahfi; 16).
Rasulullah SAW dan Sahabatnya Beruzlah
Menurut Syekh Abu Sulaiman Al-Khattabi, Rasulullah SSW juga pernah mengasingkan diri dari kaum Quraisy ketika penyiksaan dan penentangan dari mereka sudah mencapai puncaknya. Rasulullah lantas memerintahkan para sahabatnya untuk meninggalkan Makah dan berhijrah ke tanah Habasyah, kemudian ke Madinah. Aktivitas ‘uzlah pernah dilakukan Rasulullah SAW di Gua Hira. Hal itu dilakukan selama beberapa malam hingga turun wahyu pertama. (Lihat Al-Khathabi, Al-‘Uzlah: halaman 8).
Tidak Sembarang Uzlah
'Uzlah saat merebak fitnah merupakan tradisi para nabi, para wali, dan orang-orang saleh terdahulu. Namun, tradisi ini tak selamanya mereka lakukan. Ada saat di mana mereka kembali lagi ke keramaiaan dan memperbaiki kondisi sosial. Banyak ulama menyebutkan keutamaan uzlah. Sayyidina ‘Umar bin Khattab berkata: “Ambillah ‘uzlah sebagai bagian kalian!” Ibnu Sirin menyatakan dengan tegas bahwa ‘uzlah juga ibadah. Namun demikian, ‘uzlah tidak boleh dilakukan sembarangan. Kita memerlukan bekal dan ilmu yang memadai. Ibrahim An-Nakha‘i menyatakan, “Pelajarilah ilmu fiqih lebih dahulu, lalu ber‘uzlah.” (Lihat Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin: jilid II, halaman 304).
Social Distancing
Tahun 2020-2023 pengalaman pandemi Covid-19, banyak negara di dunia yang memberlakukan kebijakan pencegahan penularan virus yang masif dan cepat dengan pembatasan interaksi sosial dengan physical distancing, karantina wilayah dan lockdown.
Perintah Sosial Distancing
Hadis Nabi SAW seputar Wabah, Rasulullah SAW memerintahkan masyarakat untuk menahan diri rumah masing-masing di tengah wabah riwayat Ahmad. Tiada seseorang yang sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di rumahnya dengan bersabar serta mengharapkan ridha ilahi seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid.’’ (HR Ahmad). “Dari Abdullah bin Amir bin Rabi‘ah, Umar bin Kattab RA menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar wabah menimpa wilayah Syam. Abdurahman bin Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu. Lalu Umar bin Kattab berbalik arah meninggalkan Sargh,” (HR Bukhari, Muslim).
Diam itu Bagian Uzlah
Hadis yang senada diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah dan Sahabat Abu Bakrah (HR.Bukhari Muslim) menyatakan:"Akan terjadi fitnah-fitnah. Orang yang duduk pada saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari (aktif mendekati fitnah). Barang siapa yang menyaksikan (terjerumus ke dalam) fitnah tersebut, maka hendaklah ia menghindarinya..."
Dalam konteks spiritual, KH. Bahauddin sering dipanggil Gus Baha menjelaskan bahwa "tidur" atau menarik diri dari keributan di media sosial atau perdebatan yang memecah belah umat adalah pilihan yang lebih selamat
Pesan Mimpi yang dianggap Aneh/ Asing
Dianggap aneh karena karena menyampaikan pesan sederhana yaitu menjauhi syirik dan segala bentuk, jangan memajang gambar, foto keluarga. Keanehan ini juga berasal dari mimpi seorang sederhana dan jujur. Ia bukan dari kalangan ulama atau ahli spiritual.
Penutup
Ada pepatah lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan ungkapan ini mengajarkan tindakan nyata dan proaktif. Daripada membuang energi, mengeluh atau menyalahkan keadaan, jauh lebih berharga satu langkah kecil yang membawa solusi dan perubahan positif. Lebih baik diam dan fokus menyampaikan pesan-pesan ketauhidan, menjauhi syirik untuk menghadirkan pertolongan Allah SWT disaat masa-masa fitnah yang sedang dihadapi dunia ini.
Wallahu 'alam bissawab
Al Fakir

Komentar
Posting Komentar